- Memiliki jenggot di bawah dagu.
- Celana cingkrang di atas mata kaki.
- Sebelum masuk ke kamar mandi berdo’a terbih dahulu.
- Ketika masuk ke kamar mandi, kaki kiri dahulu yang dipijakkan.
- Penampilan istri beliau memakai jilbab besar, berkaus kaki dengan memakai sandal.
- Ketika ada tahi tikus di timba, sang istri membilas kembali cucian baju-bajunya meski sudah dicentelkan di jemurin.
- Selalu menyapa pak Udin ketika tidak ikut jamaah.
- Adzan lima waktu.
- Sering bersilaturahmi.
- Merapatkan shaf.
- Menyapa dengan suara agak keras dan didengar banyak orang Pak Udin yang minum sambil berdiri.
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Jumat, 24 Mei 2019
PEMAHAMAN HADIS DI KELUARGA RAKHMAD
Muliana Puspita Sari
17105050043
Sebagai penulis hasil penelitian hadis beliau bernama bapak Udin mencoba melihat secara detail kehidupan bapak Rakhmad yang memiliki spirit hadis cukup mendalam. Kehidupan bapak Rakhmad yang memuiliki religius tinggi terhadap pengamalan hadis-hadis Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan bapak Rakhmad dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah :
Dari beberapa uraian tersebut tampak bahwa keluarga pak Rakhmad hidup dalam teks-teks. Keluarga pak Rakhmad selalu berusaha menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang tercantum dalam teks-teks hadis sehingga kehidupan mereka menjadi terbentuk hal yang sama dengan apa yang tercantum dalam teks. Informasi dari apa yang dijalani pak Rakhmad dalam kehidupan sehari-hari beberapa berasal dari pengajian rutin yang dilaksanakan setiap hari minggu pagi bersama dengan kolompok-kelompoknya. Pengajian tersebut pun dilaksanakan secara bergilir. Dari sinilah, tampak bahwa peran Nabi Muhammad sangat berpengaruh bagi keluarga pak Rakhmad.
Berdasarkan hasil penelitian, bahwa kehidupan pak Rakhmad hanya menganut satu teks saja yang mereka pegangi. Sedangkan teks-teks hadis tidak hanya satu sumber saja. Bahkan dari banyak periwayat maupun banyak sumber yang menyampaikan informasi secara berbeda-beda. Akan tetapi, teks memiliki rentang waktu yang cukup lama. Sehingga tidak bisa dipahami hanya dengan satu cara saja, teks harus dipahami secara luas bahkan teks juga dipahami dengan tidak meninggalkan asbabul wurud hadis.
Apabila seseorang hanya berpegang teguh pada satu pemahaman saja maka menjadi ketimpangan pemahaman teks. Seseorang yang tidak mau menoleh, menilik, meneliti, dan menerima secara normatif-komprehensif tentu dapat menimbulkan kehidupan yang kaku dalam menjalani kegiatan sehari-hari karena kehidupannya yang tekstualis. Sedangkan syari’at, tidak dipahami hanya dengan satu sumber melainkan menoleh kepada kondisi zaman Nabi atau sebab akibat Nabi memberikan keputusan ataupun informasi berupa sabda Nabi.
Melihat kehidupan keluarga pak Rakhmad pada sisi living hadis menghasilkan pengamatan yang cukup identis, yakni kehidupan yang dijalankan dalam pola-pola teks. Sadar tidak sadar bahwa struktur kehidupan selalu termaktub dalam sabda Nabi. Sebenarnya, memang kebanyakan masyarakat hidup dalam kehidupan yang menjalani alur saja tanpa melihat sumber aslinya atau jika ditanya “teks hadisnya apa?” kebanyakan yang menjawab tidak tau. Namun, bisa saja yang menjawab tau tetapi dalam menjalankannya tanpa ada penafsiran sama sekali.
Berdasarkan hasil penelitian keluarga pak Rakhmad dapat disimpulkan bahwa, keluarga pak Rakhmad hidup dalam teks-teks hadis dan mangutamakan praktik yang sedekat mungkin kesamaannya dengan hadis. Adapun dari kebanyakan orang memandang hadis sebagai kecenderungan bahwa hadis Rasulullah dipandang sebagai kebiasaan, kewajiban dan merupakan hukum.
Sumber : Saifuddi, Ali Imran. 2013. Model-Model Penelitian Kontemporer. Yogyakarta : Ilha Press.
Rabu, 01 Mei 2019
KORELASI SEJARAH SOSIAL DENGAN LIVING HADIS
Muliana Puspita Sari
17105050043
Sejarah sosial sebagai pendekatan yang baru bagi living hadis. Obyek kajian ini menelaah lebih jauh peran masyarakat dalam kehidupannya saat menginterpretasikan sunnah Nabi. Keberadaan sejarah sosial tidak bisa dipungkiri bahwa ternyata sejarah sosial memiliki kontribusi yang utuh bagi studi living hadis. Hal ini dikarenakan sejarah sosial melibatkan beragam kultur sosial politik kehidupan masyarakat lokal yang berbau khas dan masih membekas seperti peninggalan sufi atau imam madzhab.
Sejarah sosial harus dilihat secara seimbang antara peran agama dan kultur masyarakat setempat. Dengan demikian, sejarah sosial tidak cukup dengan melihat islam pada aspek politik saja. Mengungkap sejarah sosial pinggiran sebagai objek kajian islam dengan memandang islam yang diasumsikan oleh masyarakat melalui pusat historiografi kekhalifahan dan kekuasaan politik. Cara pandang seperti ini akan memberikan keseimbangan antara agama dan masyarakat sebagaimana otoritas keagamaan terjadi di masyarakat.
Dapat disimpulkan bahwa sejarah sosial lebih menempatkan masyarakat sebagai objek pijakan untuk menkaji living hadis. Penekanan historiografi ditempatkan dari bawah, yakni rakyat yang kemudian baru naik pada kelas kaum elit. Sehingga historiografi tidak secara langsung merujuk pada masyarakat penguasa atau tokoh yang memiliki keahlian dan jasa pada bidang tertentu. Dengan demikian, dinamika masyarakat inilah yang menjadi penentu bagi proses sebuah sejarah.
Pentingnya sejarah sosial bagi living hadis merupakan aspek dasar yang menjadi kerangka materil bagi sebuah kajian. Interaksi antara islam dan lokalitas saling berpengaruh dengan tidak meninggalkan gambaran sejarah sosial. Living hadis sendiri hidup ditengan kehidupan masyarakat yang menjalani agama dengan tunduk terhadap sistem kekhalifahan.
Sistem kekhalifahan sebenarnya terikat oleh kultur masyarakat yang disegani sebagai seseorang yang memposisikan kursi kehormatan agamisnya. Sedangkan kekhalifahan tersebut memiliki sejarah sosial sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang orang awam. Tampak bahwa hal tersebut merupakan living hadis yang dipengaruhi oleh lokalitas dari sejarah sosial yang terjadi.
Narasi sejarah tersebut bermula dari keberadaan para tokoh pemuka agama seperti kiyai, ulama bahkan majelis agama tertentu. Mereka-mereka inilah yang memiliki otoritas dalam transmisi dan transformasi hadis kepada masyarakat setempat. Masyarakat menerima fatwa-fatwa atau keterangan-keterangan mengenai persoalan agama yang diasumsikan sebagai petunjuk bagi masyarakat.
Keberadaan para tokoh yang menjadi otoritas maka proses masyarakat tentang bagaimana masyarakat mengenyam informasi dari para tokoh agama untuk mempraktikkannya. Salah satu keterkaitan dari praktik masyarakat ini tentu melibatkan sunah Nabi yang mereka pahami melalui akulturasi budaya lokal. Sebagaimana cara masyarakat mempraktikkan tentang apa yang mereka pahami, disinilah posisi sejarah sosial dan living hadis berperan tanpa memberikan justifikasi benar dan salah. Justru living hadis berusaha memandang bagaimana masyarakan mempraktikkan dirinya sebagai bagian dari islam. Sedangkan sejarah sosial pun berusaha untuk melengkapi mereka sebagai masyarakat yang berkehidupan dinamis untuk melewati batas-batas sosio-kultural mereka.
Demikianlah keseimbangan sejarah sosial terjadi, tidak hanya melihat dari satu aspek saja namun diperlukan berbagai sisi untuk mengkajinya. Sehingga, ketika sunah Nabi yang hidup ditengah masyarakat dikaji, maka sejarah sosial berusaha untuk melengkapi dengan sejarah total. Dengan kata lain, kajian living hadis tidak dapat dikatakan sebagai kajian living apabila tidak disertai dengan penerimaan masyarakat sebagai titik dasar eksplorasi diberbagai dimensi seperti sosial, politik, budaya, ekonomi dan agama melalui sejarah sosial. Hal tersebut sangat ditekankan oleh Bulliet sebagai “the view from the edge”.
Senin, 01 April 2019
MODEL JIHAD JAMA’AH TABLIGH Muliana Puspita Sari 17105050043
Jama’ah Tabligh bertindak dengan segera dalam hal berdakwah dan menyiarkan berbagai tema keagamaan yang didasari oleh syari’at. Dalam sistem yang telah dikondisikan JT yang merupakan singkatan dari jama’ah tablik menghasilkan ide-ide yang menjadi senjata untuk pendakwahan. Menurut mereka, islam yang baik adalah orang-orang yang mau berjihat. Dengan demikian, menurut JT bahwa kehidupan beragama adalah seseorang yang jihad, pengartian jihat menurut mereka yakni, dakwah. Dakwah dengan menyebar luaskan agama islam yang berdasarkan syari’at dan terjemahan hadis serta Al quran.
Dalam melakukan jihadnya, pada anggota JT bersi keras untuk mendakwahkan ajaran islam misalnya mendatangi ke setiap rumah-rumah. Mereka berbicara panjang lebar mengenai agama islam yang didasarkan pada terjemahan hadis pada umumya. Selain itu, usaha lain yang mereka jangkau adalah dakwah dengan menerbitkan tulisan-tulisan tentang ajaran islam. Anggotanya termasuk sistem yang meluncurkan berbagai karya-karyanya yang berisi keagamaan untuk diterbitkan ke bebagai daerah. Tak lain tujuannya adalah menyebarkan dakwah keislaman yang disambungi dengan tasawuf atau islam-islam sufi.
Karya-karyanya berupa karangan yang diterbitkan dengan lokalitas yang agamis hal ini tergambarkan dari tempat penerbitannya yang tidak jauh dari Masjid. Segala bentuk perluasan ini mewujudkan perilaku sehari-hari manusia yang merupakan bagian dari kritik budaya sehingga menjadi sebuah otoritas tersendiri. Usaha-usaha ini dilakukan dengan penerbitan buku yang cukup besar dan banyak dikunjungi orang-orang, bahkan buku-buku terjemahan seperti bahasa inggris, bahasa jepang, Hindi, Arab dan Urdu telah siap diterbitkan ke luar negeri seperti Australia, Inggris maupun Amerika.
Edisi bahasa Indonesia yang disebarkan dari terbitan JT kini memiliki tema yang kental dengan hadis. Format dalam yang ada dalam buku JT tampak sebagai berikut, terdapat umbul-umbul yang mencantumkan ayat Al quran dalam berbahasa Arab dan bahasa Urdu. Sampul buku menampilkan gambar makam Nabi dengan kubah berwarna hijau di Madinah, hal ini mengidentifikasi teks tersebut sebagai tanda kecintaannya terhadap Nabi. Begitulahlah model buku tersebut dikemas dengan sedemikian rupa yang memperlihatkan otoritas teks hadis sehingga seperti bukan buatan manusia tetapi fatwa-fatwa agama. Seluruh buku dari JT memuat ibadah secara praktik maupun amaliahnya, akan tetapi dalam buku ini sangat menghindari kritikan teradap adat dan kebiasaan yang buruk, tetapi lebih didominasi dengan hukum perbaikan.
Jika dilihat dari segi Islam, menganut terjemahan-terjemahan hadis ini menimbulkan pemahaman tertentu dalam JT, hal ini karena menurutnya jika terlalu banyak perbedaan hukum islam menimbulkan sebuah pertikaian karena perbedaan tersebut. Isi dari tindakan jihad ini juga merupakan sebuah tujuan mereka untuk suatu pengorganisasian. Mereka membentuk suatu sistem yang membuka perekrutan untuk menjadi anggota JT. Setelah menjadi anggota, mereka dituntun untuk mengarah kepada pemikiran theologis yakni pada karya-karyanya yang ber-esensi tidak jauh dari sufi.
Hal tersebut tampak pada isi buku yang cukup banyak memunculkan kisah-kisah Nabi dan pembesar islam pada zaman islam mulai baru-barunya disebarkan di dunia.
“manusia-manusia ini (para sahabat Nabi) menghadapi hambatan dan gangguan semacam itu dewasa ini kita menyebut-nyebut nama mereka dan mengatakan bahwa kita meneladani mereka, sekaligus berpikir bahwa kita menyaksikan mimpi-mimpi kemajuan (taraqiyan) seperti mimpi-mimpinya para sahabat yang mulia dalam urusan tentang kemajuan ruhiyah. Namun apabila untuk sesaat saja kita mau mengaruh sedikit perhatian, maka kita terpaksa beranggapan bahwa manusia-manusia agung tersebut melakukan pengorbanan berat semacam itu sedangkan kita, apakah yang telah kita perbuat demi agama, demi islam, demi manhaj? Kesuksesan selalu berbanding lurus dengan usaha keras dan perjuangan. Kita adalah manusia yang menginginkan kemewahan dan kenyamanan, dan kita menginginkan kerjasama dengan orang-orang kafir demi mengejar benda-benda di duniawi. Kemajuan islam bergantung pada kita, jadi bagaimana hal ini bisa terwujud? Seperti bunyi pepatah persia “aku takut, wahai pengelana, bahwa engkau tidak akan sampai ka’bah : jalan yang engkau susuri mengarah ke Turkestan)”
(Edisi Malik : hal 23-34, edisi Faizi, hlm. 36)
Pada paragraf diatas hanya potongan yang ada pada karya-karya JT. Pada umumnya, karya-karya ini memiliki maksud untuk memberikan pengertian kepada pembaca bahwa kehidupan yang sekarang adalah kehidupan yang penuh kehancuran baik peradaban, akhlak maupun budi pekerti manusia. Tentu berbeda dengan zaman Nabi dahulu, bahwa Nabi dan para sahabatnya berperi kehidupan yang shaleh. Mau bekerja keras, berkorban dan berjuang untuk kehidupan dan agamanya. seperti itulah maksud yang disampaikan isi teks pada umumnya. Mereka menggambarkan bahwa kehidupan yang sekarang terjadi banyak kesalahan dan harus diperbaiki.
Dalam segi perbaikan pun memiliki arti lain lagi. Menurut JT, dalam berdakwah mereka memiliki visi sebagai teladan Nabi yang merupakan paparan dari organisasi mereka. Organisasi mereka juga menghapuskan politik dan aktivitas sosial agar aktivitas mereka dapat terus berkembang dalam lingkungan abad ke XX yang tidak ada kampanye maupun kekuasaan politik. Aktivitas JT menciptakan pola kehidupan individual dan organisasional yang radikal. Menurut mereka, keberadaan ulama dan syekh sebenarnya tidak perlu. Hal ini karena menurut JT bahwa ulama dan syekh bukan sebagai sumber hukum islam yang secara mutlak. Akan tetapi, sumber hukum yang mutlak adalah Hadis dan Al quran. Mereka menganggap bahwa ajaran mereka adalah ajaran yang paling benar karena ajaran merekaa adalah teladan Nabi menurutnya. Mereka memandang diri mereka adalah sesuatu selain partai, tetapi mereka berciri jama’at. Dalam kelompoknya pun dibekali dengan pemikiran yang sama.
Rabu, 13 Maret 2019
POSISI TEKS DARI KERAGAMAN RESEPSI Muliana Puspita Sari
Sebelum teks dijadikan sebuah presepsi maka terdapat akses yang memuat aspek-aspek dalam studi living hadis. Aspek ini tidak dapat ditinggalkan ketika masyarakat mempraktikkan tentang apa yang dim
uat pada teks hadis. Tak hanya itu, aspek ini juga dibutuhkan dimana masyarakat memperlakukan teks sebagai yang memiliki keotoritasan.
Aspek ini dapat dilihat dari beberapa sudut yakni, sudut sosiologis, zaman dan keragaman cara atas teks-teks hadis. Aspek ini diuraikan dan dijelaskan dari tiga sudut pandang sebagai berikut :
Aspek yang dilihat dari sudut sosiologis bahwa pada aspek ini menyertakan sebuat keteladanan yang cukup kuat. Posisi seorang guru yang mengajarkan teks dengan cara tradisional maupum modern memiliki kedudukan untuk di santuni dan diteladani. Oleh karena itu, keberadaan seorang guru adalah seorang transmitor kesalehan dari para penganutnya. Bila diambil dari gambaran Fazlur Rahman maka yang lekat dibahas adalah bukan hal yang diperankan Nabi Muhammad tetapi pentingnya para mediator untuk mengembangkan hadis.
Faktor zaman tidak dapat dipungkiri bahwa hadirnya hadis pada saat zaman Nabi dan peristiwa yang ada pada zaman Arab terdahulu. Dengan melampau waktu yang cukup lama maka berpengaruh terhadap respon-respon masyarakat dalam memahami sebuah teks. Bahkan, akses muslim cukup banyak untuk mempelajari islam seperti kitab-kitab fiqh, muamalah maupun berbagai akses lainnya yang sangat berpengaruh terhadap keberagaman praktik masyarakat.
Aspek yang terakhir adalah keragaman cara atas teks-teks hadis. Dalam memahami cara dan bacaan sebuah teks sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. Hadirnya seorang ahli agama maupun ulama memiliki pengaruh terhadap pemahaman teks tersebut. Sehingga keragaman praktik yang dilakukan umat islam bergantung kepada ulama sentral dalam merespons kondisi factual hadis dan bentuk praktik dari peresepsian sebuah hadis.
Dari aspek-aspek tersebutlah terlihat bahwa resepsi masyarakat terbentuk dengan dipengaruhi berbagai faktor. Resepsi inilah yang menjadi peran dari kajian living hadis. Dalam penerapannya, sebuah resepsi tidakj muncul begitu saja. Terdapat objek yang menjadi sarana atau transmitor dalam pemaknaan sebuah teks. Maksudnya adalah, sebelum masyarakat mempraktikkan sebuah teks dalam kehidupannya, bisa jadi telah hadir para ulama local yang telah berperan pada lokalitas tersebut. Masyarakat lambat laun meneladani tindakan dari seseorang yang disegani seperti kiyai, guru, ulama atau seorang ahli agama.
Peran seorang guru inilah menjadi sentral bagi praktik masyarakat. Namun, praktik-praktik ini kemungkinan besar berbeda model dengan lokalitas lain yakni wilayah yang berbeda. Hal ini dapat dipahami bahwa pandangan dari seseorang yang menjadi sentral ini memiliki beragam resepsi. Para ulama mengolah teks dengan resepsinya masing-masing yang tidak jauh dari nash sehingga menghasilkan keberagaman praktik beragama.
Di Indonesia sendiri, sebagai negara yang memiliki berbagai budaya, suku, adat istiadat bahkan ke-khasan sebuah lokalitas. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena pada realitanya penerimaan islam berkelut dengan kebudayaan dan lokalitas yang ada. Disinilah terjadi sebuah resepsi yang eksegis. Tentu sangat mungkin apabila eksegis ini berkembang dalam berbagai kerangka budaya dan sosial dengan struktur geografis yang beragam. Dengan demikian, signifikansi dari makna teks adalah bergantung kepada hasil resepsi teks.
Resepsi ini memiliki fungsional sebagai model praktik di masyarakat. Resepsi pertama adalah resepsi informatif. Resepsi ini bermula dari interpretasi untuk memahami apa yang disampaikan pada teks. Pendekatan ini sebagai salah satun model resepsi yang diawali dari interpretasi tetapi dapat dimasukkan eksegesis yang kemudian diikuti praktik. Contohnya, Tradisi Sekar makam 2014.
Resepsi berikutnya adalah fungsional berupa performatif. Pendekatan ini dimulai dari respon terhadap teks yakni, apa yang dilakukan masyarakat untuk menanggapi teks tersebut. Contohnya, tradisi pembacaan kitab al mukhtasyar lil imam bukhari bulan Rajab. Hal itu adalah fungsi performa dari hadis yang kemudian dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sebagai suatu kebiasaan.
Fungsi informative dan performatif mungkin dapat terjadi di suatu masyarakat atau sekelompok masyarakat yang kurang memperhitungkan peran literasi yakni teks. Menurut Sam D. Gail masyarakat yang seperti itu bukan berarti mereka buta aksara sehingga mereka tidak bisa membaca. Akan tetapi, mereka lebih mementingkan keberadaan teks dalam ruang praktik. Teks tersebut dikontekskan berdasarkan praktik yang dianut dan terjadi di tempat yang spesifik. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa posisi teks justru kurang disadari oleh masyarakat. Mereka mungkin menyadari pada saat mereka mengadakan ritual atau perayaan tertentu. Masyarakat lebih dominal melaksanakan sebuah praktik yang cukup spesifik. Disinilah posisi teks menjadi eksegesis baru yang diterima masyarakat sebagai sebuah praktik keseharian mereka dan praktik ini yang sudah melekat dimasyarakat.
Kamis, 21 Februari 2019
RAGAM TRADISI TERHADAP PENGHARGAAN SEBUAH TEKS
Oleh : Muliana Puspita Sari
Sebutan antropolog bukanlah hal yang sederhana untuk dapat dipanggil sebagai antropolog. Antropolog mampu melewati hambatan dalam sebuah penelitian. Ada hambatan yang perlu dilalui seperti hambatan kultural terhadap komunis yang diteliti. Penelitian ini adalah bentuk agama yang dimaknai dengan beragam pandangan. Bentuk pandangan yang dimaksud yakni, sosial kultural bahwa agama dibagi menjadi dua yakni, tradisi besar dan tradisi kecil. Tradisi besar merupakan ortodoksi dari bentuk ekspresi agama sentral. Sedangkan tradisi kecil bersifat memasukkan elemen kedalam agama sehingga bercampur menjadi sebuah praktik lokal. Menurut yang penulis pahami dari berbagai ilmuan antropoligi, pembagian agama yang berupa tradisi ini memberikan pengaruh terhadap pihak elite dan awam. Bahkan pembagian keduanya menimbulkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana makna islam yang sebenarnya.
Lambat laun tradisi ini menimbulkan pertanyaan yang jawabannya beragam sesuai komunitas muslim. Muncullah sebuah diskursif yang dipraktikkan dengan beragam ekspresi. Ragam ekspresi menjadi tugas antropolog yang dikenal dengan istilah islams dan bukan islam (menurut Lila Abou Lughod). Dengan pengekspresian ini islam menjadi beragam karena timbul kelompok yang berasal dari teks (tradisi besar) dan sebagai partisipan (tradisi kecil). Hadirlah sebuah cara pandang diskusif yang berperan sebagai penguasa menjadikan ortodoksi sebagai relasi / chanelling yang disebut dengan tradisi aural. Hal ini dihubungkan dengan prespektif living hadis yang dikaitkan bersama sejarah. Prespektif living hadis memberikan potret transformasi atas dinamika yakni menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai the real islam.
Sebagai sebuah contoh, tradisi selametan ini bermula dari tradisi besar yakni tradisi Hindu dan Budha yang bertautan dengan tradisi Islam. Dalam islam pun terdapat pemaknaan hadis bahwa orang yang meninggal maka terputuslah amalnya kecuali do'a anak sholeh. Maka melalui tradisi slametan inilah sebagai sebuah ekspresi atas respon kebudayaan yang menjadi siklus kehidupan.
Antropologi baru merupakan bentuk dari hubungan antara sebuah fakta dengan sumber-sumber tradisi sehingga meletakkan sebuah praktik. Praktik ini adalah interpretasi yang memiliki makna tertentu dari proses-proses sosial. Proses sosial tidak bisa jauh dari teks yang mana teks tersebut merupakan unsur penting umat islam yakni, Al quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Teks inilah yang menjadi landasan pokok umat islam untuk menjawab berbagai persoalan-persoalan manusia. Disinilah otoritas sebuah teks dapat diketahui yang bermula dari kompetisi dan sebuah reproduksi budaya masyarakat.
Otoritas teks bukan hanya sesuatu yang ada dalam sebuah teks saja. Akan tetapi, letak sebuah teks secara kultural yang terjadi dari praktik-praktik tertentu. Praktik ini seperti motivasi untuk mendapat ridho Allah SWT atau rasa terpanggil untuk melakukan sebuah praktik religius. Bagi umat muslim pun tidak hanya Al quran dan hadis saja, tetapi kehadiran hukum dan norma yang berperan sebagai sanksi kehidupan baik pada segi sosial maupun individu.
Problem-problem masyarakat ini yang ditangani oleh seorang antropolog ketika merumuskan aturan konsep dari perbedaan islam. Antropolog merelasikan antara tradisi besar dan tradisi kecil melalui universalisasi yakni tradisi yang dipelajari melalui lokalitas. Sehingga antropolog berusaha memperlihatkan bagaimana masing-masing umat muslim berpartisipasi dengan tradisi bersama meski teks diketahui sebagai aktifitas dari proses sosial masyarakat. Hal ini dipengaruhi bahwa otoritas teks yang sangat berperan dan bergantung dengan dimana teks tersebut diproduksi kemudian di praktikkan. Bermula dari teks yang menjadi konseptual secara objektif, kemudian konseptual ini dipraktikkan pada realitas sosio-psikologis dan berakhir dengan model dari teks.
Sumber : Saifuddin, Subkhani. 2018. Living Hadis (Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi). Yogyakarta : Q-media.
Kamis, 14 Februari 2019
ABOUT LIVING HADIS
Muliana Puspita Sari
17105050043
ILHA A
LIVING HADIS
Hadis yang menjadi sumber ajaran kedua dari Al quran merupakan teladan dan praktik petunjuk Nabi Muhammad. Akan tetapi, banyak manusia yang meneladaninya dengan cara yang berbeda sehingga terkadang menjadi perdebatan yakni dari kaum literalis dan kontekstualis. Keragaman budaya terejawantahkan pada intuisi sehingga memunculkan sebuah praktik agama sebagai cara meneladani Rasulullah. Dengan demikian relasi antar agama, budaya dan modernitas yang tidak lepas dari nenek moyang menjadi sebuah terma dialektika yang muncul di berbagai fenomena. Living hadis adalah hasil dari dialektika yang diliah dari sosio-kultural masa kini tetapi tidak lepas dari hadis-hadis masa lalu.
Lingkup living hadis adalah sebagai berikut :
Perjumpaan teks normatif hadis dengan realitas ruang waktu dan lokal.
Living hadis untuk mengakomodir praktik di masyarakat yang berdasar pada teks hadis.
Living hadis tidak mempermasalahkan apakah sebuah praktik berasal dari hadis shahih, hasan dan dhaif, yang terpenting hadis dan bukan hadis maudhu’ hal ini dikarenakan sudah menjadi suatu bentuk keragaman praktik yang diakui masyarakat asal tidak menyalahi norma-norma.
Living hadis adalah suatu bentuk kajian atas fenomena praktik, tradisi, ritual, atau perilaku yang hidup di masyarakat yang memiliki landasannya di hadis nabi. Berbagai interpretasi dari praktik ini misalnya aqiqah yang diwujudkan dengan bentuk yang berbeda tergantung kelompok masyarakat. Jika masyarakat abangan maka biasanya mereka menyembelih ayam untuk menyesuaikan ekonomi mereka.
Teks hadir dan di pahami sesuai tempat dimana mayoritas masyarakat hidup. Mereka memaknai dengan presepsi yang berbeda, hal ini tidak lain karena budaya dan letak geografi yang memengaruhi dalam menyerap sebuah teks. Pada suatu penelitian di sebuah kamupung misal puasa senin-kamis, apabila narasumber bertanya pada informan tentang bagaimana teks hadisnya mengenai puasa senin-kamis ini. Akan Tetapi, tidak semua informan mengetahui bagaimana dalilnya, ada pula mereka yanh mengetahui sejarah atau pernah mendengar sehingga mereka mengatakan bahwa puasa senin-kamis hukumnya sunnah. Dalam lingkum praktik keagamaan ini memang tanpa disadari pelaku praktik akan teks atau praktik Nabi. Disinilah peran agen dibutuhkan, yang mana agen menjadi perantara antara orang awam dan orang yang faham agama untuk memberikan informasi dalil secara detail. Agen meresepsi produk yang sudah jadi dengan latar belakang kultural dan konteks saat itu. Namun, sebagai sebuah hasil resepsi terkadang praktik terlalu condong dilakukan hingga terkadang terkesan teksnya hilang sehingga memang sebaiknya teksnya terlebih dahulu.
Living hadis adalah salah satu bentuk resepsi maka memerlukan teori metodologi dalam melihat prilaku masyarakat dengan pendekatan sebagai berikut :
1. Fenomenologi
Fenomenologi yaitu ilmu pengetahuan mengenai apa yang tampak untuk mengumpulkan data dari individu yang mengalami fenomena tersebut.
2. Naratif Studies
Berisi tentang rangkaian peristiwa atau kronologi yang saling berhubungan. Riset ini dapat dimulai dari cerita-cerita individu seperti biografi, pengalaman, rekam sejarah atau sejarah kehidupan seseorang.
3. Etnografi
Penelitian mengenai dua kelompok atau komunitas yang memiliki kebudayaan sama, yang di pelajari etnografer adalah perilaku bahasa, interaksi di kalangan para anggota komunitas kebudayaan tersebut.
4. Sosiologi Pengetahuan
Dalam teori Berger dan Luckmann mengandaikan suatu proses dialektika antara individu dengan realitas. Dari hal ini dapat dilihat bagaimana seorang individu membentuk dan dibentuk oleh Al quran dan Hadis sebagai fenomena sehari-hari.
5. Sejarah Sosial
Dengan sejarah maka suatu peristiwa dapat diliat kontekstualisasinya sehingga tampaklah apa yang terjadi sebenarnya. Seperti kajian histori mengenai kelas, kelompok sosial, mentalis dan budaya.
Dapat disimpulkan dari buku living hadis Bab 1 karya Ibu Subkhani dan Bapak Saifuddin bahwa living hadis merupakan suatu bentuk kajian atas praktik, tradisi, ritual, atau perilaku yang hidup di masyarakat. Kajian living hadis sebaiknya ditemukan teks hadisnya terlebih dahulu agar dalam penelitian tidak jatuh pada bidang studi sosiologi agama dan antropologi agama. Kajian living hadis membutuhkan metodologi dan pendekatan sebagai perangkat dialektika individu dan masyarakat.
Sumber : Saifuddin. Subkhani. 2018. Living Hadis (praktik, resepsi, teks dan transmisi), Yogyakarta : Q-Media.
17105050043
ILHA A
LIVING HADIS
Hadis yang menjadi sumber ajaran kedua dari Al quran merupakan teladan dan praktik petunjuk Nabi Muhammad. Akan tetapi, banyak manusia yang meneladaninya dengan cara yang berbeda sehingga terkadang menjadi perdebatan yakni dari kaum literalis dan kontekstualis. Keragaman budaya terejawantahkan pada intuisi sehingga memunculkan sebuah praktik agama sebagai cara meneladani Rasulullah. Dengan demikian relasi antar agama, budaya dan modernitas yang tidak lepas dari nenek moyang menjadi sebuah terma dialektika yang muncul di berbagai fenomena. Living hadis adalah hasil dari dialektika yang diliah dari sosio-kultural masa kini tetapi tidak lepas dari hadis-hadis masa lalu.
Lingkup living hadis adalah sebagai berikut :
Perjumpaan teks normatif hadis dengan realitas ruang waktu dan lokal.
Living hadis untuk mengakomodir praktik di masyarakat yang berdasar pada teks hadis.
Living hadis tidak mempermasalahkan apakah sebuah praktik berasal dari hadis shahih, hasan dan dhaif, yang terpenting hadis dan bukan hadis maudhu’ hal ini dikarenakan sudah menjadi suatu bentuk keragaman praktik yang diakui masyarakat asal tidak menyalahi norma-norma.
Living hadis adalah suatu bentuk kajian atas fenomena praktik, tradisi, ritual, atau perilaku yang hidup di masyarakat yang memiliki landasannya di hadis nabi. Berbagai interpretasi dari praktik ini misalnya aqiqah yang diwujudkan dengan bentuk yang berbeda tergantung kelompok masyarakat. Jika masyarakat abangan maka biasanya mereka menyembelih ayam untuk menyesuaikan ekonomi mereka.
Teks hadir dan di pahami sesuai tempat dimana mayoritas masyarakat hidup. Mereka memaknai dengan presepsi yang berbeda, hal ini tidak lain karena budaya dan letak geografi yang memengaruhi dalam menyerap sebuah teks. Pada suatu penelitian di sebuah kamupung misal puasa senin-kamis, apabila narasumber bertanya pada informan tentang bagaimana teks hadisnya mengenai puasa senin-kamis ini. Akan Tetapi, tidak semua informan mengetahui bagaimana dalilnya, ada pula mereka yanh mengetahui sejarah atau pernah mendengar sehingga mereka mengatakan bahwa puasa senin-kamis hukumnya sunnah. Dalam lingkum praktik keagamaan ini memang tanpa disadari pelaku praktik akan teks atau praktik Nabi. Disinilah peran agen dibutuhkan, yang mana agen menjadi perantara antara orang awam dan orang yang faham agama untuk memberikan informasi dalil secara detail. Agen meresepsi produk yang sudah jadi dengan latar belakang kultural dan konteks saat itu. Namun, sebagai sebuah hasil resepsi terkadang praktik terlalu condong dilakukan hingga terkadang terkesan teksnya hilang sehingga memang sebaiknya teksnya terlebih dahulu.
Living hadis adalah salah satu bentuk resepsi maka memerlukan teori metodologi dalam melihat prilaku masyarakat dengan pendekatan sebagai berikut :
1. Fenomenologi
Fenomenologi yaitu ilmu pengetahuan mengenai apa yang tampak untuk mengumpulkan data dari individu yang mengalami fenomena tersebut.
2. Naratif Studies
Berisi tentang rangkaian peristiwa atau kronologi yang saling berhubungan. Riset ini dapat dimulai dari cerita-cerita individu seperti biografi, pengalaman, rekam sejarah atau sejarah kehidupan seseorang.
3. Etnografi
Penelitian mengenai dua kelompok atau komunitas yang memiliki kebudayaan sama, yang di pelajari etnografer adalah perilaku bahasa, interaksi di kalangan para anggota komunitas kebudayaan tersebut.
4. Sosiologi Pengetahuan
Dalam teori Berger dan Luckmann mengandaikan suatu proses dialektika antara individu dengan realitas. Dari hal ini dapat dilihat bagaimana seorang individu membentuk dan dibentuk oleh Al quran dan Hadis sebagai fenomena sehari-hari.
5. Sejarah Sosial
Dengan sejarah maka suatu peristiwa dapat diliat kontekstualisasinya sehingga tampaklah apa yang terjadi sebenarnya. Seperti kajian histori mengenai kelas, kelompok sosial, mentalis dan budaya.
Dapat disimpulkan dari buku living hadis Bab 1 karya Ibu Subkhani dan Bapak Saifuddin bahwa living hadis merupakan suatu bentuk kajian atas praktik, tradisi, ritual, atau perilaku yang hidup di masyarakat. Kajian living hadis sebaiknya ditemukan teks hadisnya terlebih dahulu agar dalam penelitian tidak jatuh pada bidang studi sosiologi agama dan antropologi agama. Kajian living hadis membutuhkan metodologi dan pendekatan sebagai perangkat dialektika individu dan masyarakat.
Sumber : Saifuddin. Subkhani. 2018. Living Hadis (praktik, resepsi, teks dan transmisi), Yogyakarta : Q-Media.
Rabu, 07 Maret 2018
TENTANG PROGRAM STUDI SAYA
assalamu'alaikum wr.wb.
Alhamdulillah saya sudah tobat wkkw.. yang dulunya adalah siswa dari sekolah negeri yang sifatnya pengetahuan alam sekarang tentang ilmu agama.. intinya kalau ditanya orang kuliahnya jurusan apa ya saya jawab gini nih biar mantep : jurusan jalan masuk surga buk, pak, mbak, mas, dek, bang, coey, bro, sis dan bla..bla..bla.... saya sekarang belajar Ilmu Hadis di UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA. Banyak pengetahuan yang masuk ke dalem hati ini buat tau tentang apa dan siapa saya ketika saya belajar ilmu agama di Universitas yang berbasis agama islam... lebih mendekatkan hati.. menundukkan diri dan mengubah pola hidup dengan dasar islami yang lebih mendalam lagi.. bismillah.. mempelajari jalan menuju akhirat, merasakan ilmu yang mengalir dalam adrah dan terasa berdenyut nadi-nadi ini.. karena sejatinya hidup ini karena Allah SWT..
berikut ulasan tentang program studiku gaes......
Ilmu Hadis
FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI ISLAM
http://djolodoen.blogspot.co.id/2012/10/fakultas-ushuluddin.html
Prodi Ilmu Hadis (IH) adalah program studi yang fokus kepada kajian
hadis dengan segala kompleksitasnya, dalam rangka menghasilkan alumni
yang profesional dan mampu berkompetisi secara global. Secara historis,
prodi ini dahulu bernama Jurusan Tafsir Hadis (TH), berdiri pada tahun
1989 dengan SK yang ditandatangani oleh Menteri Agama RI (SK No. 122
tahun 1988). Seiring dengan SK Direktur Jendral Pendidikan Islam No 4979
tanggal 5 September 2014, Keputusan Direktur Jenderan Pendidikan Islam
Nomor 3389 Tahun 2013 tentang Penamaan Perguruan Tinggi Agama Islam,
Fakultas dan Jurusan pada Perguruan Tinggi Agama Islam Tahun 2013;
Keputusan Direktur Jenderal Nomor Dj.I/441/2010 tentang Pedoman
Pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam; serta dengan adanya Peraturan
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Nomor: 1429 Tahun 2012 tentang
Penataan Program Studi di Perguruan Tinggi Agama Islam, maka Jurusan TH
terpecah menjadi Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IAT) dan Ilmu Hadis
(IH). Hingga sekarang Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Studi
Islam telah berjalan dengan dua kali masa penerimaan mahasiswa baru.
- VISI, MISI DAN TUJUAN
Dalam rangka upaya mewujudkan Visi tersebut, program studi Ilmu Hadis memiliki misi sebagai berikut :
- Mempersiapkan sumber daya manusia terdidik yang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu-ilmu dasar Hadis serta keimanan yang kokoh, berkepribadian yang kokoh, berkepribadian utuh yang disertai dengan akhlak al-karimah dan kepedulian sosial yang tinggi.
- Menggali dan mengembangkan ilmu-Ilmu Hadis yang dilaksanakan melalui kegiatan studi turats Islam, penelitian lapangan dan analisis pemikiran para muhaddits dan pensyarahnya.
- Memasyarakatkan dan menerapkan pengetahuan dan teknologi yang berkenaan dengan dasar-dasar Ilmu Hadis dalam rangka pemecahan-pemecahan masalah sosial keagamaan dan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan komunikasi, konsultasi, dialog desiminasi, diskusi/seminar, pelatihan dan penerbitan.
- Mengembangkan sistem pendidikan dan pengajaran dalam bidang studi hadis yang digali dari sumber-sumber otoritatif hadis, buku syarah baik klasik maupun kontemporer, dan karya-karya ilmiah para ulama klasik, dan dan sarjana-sarjana modern yang berkaitan dengan Ilmu Hadis yang kemudian dipadukan secara integrative-interkonektif dan transdisiplin.
- Memperluas dan memperkaya kajian-kajian terhadap ilmu-ilmu Hadis termasuk metode-metode pengembangannya.
- Menyebarluaskan dan menerapkan pengetahuan dan teknologi yang digali dari hadis dan ilmu hadis dalam rangka meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan kearifan masyarakat Islam tentang sumber-sumber Islam dan penerapannya dalam kehidupan nyata.
- Meningkatkan kerja sama Program Studi yang bernilai produktif dan inovatif dengan berbagai pihak dalam rangka pelaksanaan tridarma Perguruan Tinggi, terutama dalam bidang studi Ilmu Hadis.
Tujuan umum dari jurusan hadis dan ilmu hadis adalah terselenggaranya
proses pendidikan yang berkualitas dan menghasilkan lulusan yang
memilki keunggulan kompetitif dan keunggulan komperatif (lokal, nasional
dan pasar global)
sumber : http://fusi.uinsu.ac.id/page/143/ilmu-hadis
sekian ya gaes tentang program studi saya.. bismillah jika kalian sedang menjalani program studi lain.. semoga kita saling melengkapi dengan adanya blog ini..
wassalamu'alaikum wr.wb :)










