This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 13 Maret 2019

POSISI TEKS DARI KERAGAMAN RESEPSI Muliana Puspita Sari

           Sebelum teks dijadikan sebuah presepsi maka terdapat akses yang memuat aspek-aspek dalam studi living hadis. Aspek ini tidak dapat ditinggalkan ketika masyarakat mempraktikkan tentang apa yang dim
uat pada teks hadis. Tak hanya itu, aspek ini juga dibutuhkan dimana masyarakat memperlakukan teks sebagai yang memiliki keotoritasan.
 Aspek ini dapat dilihat dari beberapa sudut yakni, sudut sosiologis, zaman dan keragaman cara atas teks-teks hadis. Aspek ini diuraikan dan dijelaskan dari tiga sudut pandang sebagai berikut :
Aspek yang dilihat dari sudut sosiologis bahwa pada aspek ini menyertakan sebuat keteladanan yang cukup kuat. Posisi seorang guru yang mengajarkan teks dengan cara tradisional maupum modern memiliki kedudukan untuk di santuni dan diteladani. Oleh karena itu, keberadaan seorang guru adalah seorang transmitor kesalehan dari para penganutnya. Bila diambil dari gambaran Fazlur Rahman maka yang lekat dibahas adalah bukan hal yang diperankan Nabi Muhammad tetapi pentingnya para mediator untuk mengembangkan hadis.
Faktor zaman tidak dapat dipungkiri bahwa hadirnya hadis pada saat zaman Nabi dan peristiwa yang ada pada zaman Arab terdahulu. Dengan melampau waktu yang cukup lama maka berpengaruh terhadap respon-respon masyarakat dalam memahami sebuah teks. Bahkan, akses muslim cukup banyak untuk mempelajari islam seperti kitab-kitab fiqh, muamalah maupun berbagai akses lainnya yang sangat berpengaruh terhadap keberagaman praktik masyarakat.
Aspek yang terakhir adalah keragaman cara atas teks-teks hadis. Dalam memahami cara dan bacaan sebuah teks sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. Hadirnya seorang ahli agama maupun ulama memiliki pengaruh terhadap pemahaman teks tersebut. Sehingga keragaman praktik yang dilakukan umat islam bergantung kepada ulama sentral dalam merespons kondisi factual hadis dan bentuk praktik dari peresepsian sebuah hadis.
Dari aspek-aspek tersebutlah terlihat bahwa resepsi masyarakat terbentuk dengan dipengaruhi berbagai faktor. Resepsi inilah yang menjadi peran dari kajian living hadis. Dalam penerapannya, sebuah resepsi tidakj muncul begitu saja. Terdapat objek yang menjadi sarana atau transmitor dalam pemaknaan sebuah teks. Maksudnya adalah, sebelum masyarakat mempraktikkan sebuah teks dalam kehidupannya, bisa jadi telah hadir para ulama local yang telah berperan pada lokalitas tersebut. Masyarakat lambat laun meneladani tindakan dari seseorang yang disegani seperti kiyai, guru, ulama atau seorang ahli agama.
Peran seorang guru inilah menjadi sentral bagi praktik masyarakat. Namun, praktik-praktik ini kemungkinan besar berbeda model dengan lokalitas lain yakni wilayah yang berbeda. Hal ini dapat dipahami bahwa pandangan dari seseorang yang menjadi sentral ini memiliki beragam resepsi. Para ulama mengolah teks dengan resepsinya masing-masing yang tidak jauh dari nash sehingga menghasilkan keberagaman praktik beragama.
Di Indonesia sendiri, sebagai negara yang memiliki berbagai budaya, suku, adat istiadat bahkan ke-khasan sebuah lokalitas. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena pada realitanya penerimaan islam berkelut dengan kebudayaan dan lokalitas yang ada. Disinilah terjadi sebuah resepsi yang eksegis. Tentu sangat mungkin apabila eksegis ini berkembang dalam berbagai kerangka budaya dan sosial dengan struktur geografis yang beragam. Dengan demikian, signifikansi dari makna teks adalah bergantung kepada hasil resepsi teks.
Resepsi ini memiliki fungsional sebagai model praktik di masyarakat. Resepsi pertama adalah resepsi informatif. Resepsi ini bermula dari interpretasi untuk memahami apa yang disampaikan pada teks. Pendekatan ini sebagai salah satun model resepsi yang diawali dari interpretasi tetapi dapat dimasukkan eksegesis yang kemudian diikuti praktik. Contohnya, Tradisi Sekar makam 2014.
Resepsi berikutnya adalah fungsional berupa performatif. Pendekatan ini dimulai dari respon terhadap teks yakni, apa yang dilakukan masyarakat untuk menanggapi teks tersebut. Contohnya, tradisi pembacaan kitab al mukhtasyar lil imam bukhari bulan Rajab. Hal itu adalah fungsi performa dari hadis yang kemudian dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sebagai suatu kebiasaan.
Fungsi informative dan performatif mungkin dapat terjadi di suatu masyarakat atau sekelompok masyarakat yang kurang memperhitungkan peran literasi yakni teks. Menurut Sam D. Gail masyarakat yang seperti itu bukan berarti mereka buta aksara sehingga mereka tidak bisa membaca. Akan tetapi, mereka lebih mementingkan keberadaan teks dalam ruang praktik. Teks tersebut dikontekskan berdasarkan praktik yang dianut dan terjadi di tempat yang spesifik. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa posisi teks justru kurang disadari oleh masyarakat. Mereka mungkin menyadari pada saat mereka mengadakan ritual atau perayaan tertentu. Masyarakat lebih dominal melaksanakan sebuah praktik yang cukup spesifik. Disinilah posisi teks menjadi eksegesis baru yang diterima masyarakat sebagai sebuah praktik keseharian mereka dan praktik ini yang sudah melekat dimasyarakat.