This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 01 April 2019

MODEL JIHAD JAMA’AH TABLIGH Muliana Puspita Sari 17105050043


Jama’ah Tabligh bertindak dengan segera dalam hal berdakwah dan menyiarkan berbagai tema keagamaan yang didasari oleh syari’at. Dalam sistem yang telah dikondisikan JT yang merupakan singkatan dari jama’ah tablik menghasilkan ide-ide yang menjadi senjata untuk pendakwahan. Menurut mereka, islam yang baik adalah orang-orang yang mau berjihat. Dengan demikian, menurut JT bahwa kehidupan beragama adalah seseorang yang jihad, pengartian jihat menurut mereka yakni, dakwah. Dakwah dengan menyebar luaskan agama islam yang berdasarkan syari’at dan terjemahan hadis serta Al quran.
Dalam melakukan jihadnya, pada anggota JT bersi keras untuk mendakwahkan ajaran islam misalnya mendatangi ke setiap rumah-rumah. Mereka berbicara panjang lebar mengenai agama islam yang didasarkan pada terjemahan hadis pada umumya. Selain itu, usaha lain yang mereka jangkau adalah dakwah dengan menerbitkan tulisan-tulisan tentang ajaran islam. Anggotanya termasuk sistem yang meluncurkan berbagai karya-karyanya yang berisi keagamaan untuk diterbitkan ke bebagai daerah. Tak lain tujuannya adalah menyebarkan dakwah keislaman yang disambungi dengan tasawuf atau islam-islam sufi.
Karya-karyanya berupa karangan yang diterbitkan dengan lokalitas yang agamis hal ini tergambarkan dari tempat penerbitannya yang tidak jauh dari Masjid. Segala bentuk perluasan ini mewujudkan perilaku sehari-hari manusia yang merupakan bagian dari kritik budaya sehingga menjadi sebuah otoritas tersendiri. Usaha-usaha ini dilakukan dengan penerbitan buku yang cukup besar dan banyak dikunjungi orang-orang, bahkan buku-buku terjemahan seperti bahasa inggris, bahasa jepang, Hindi, Arab dan Urdu telah siap diterbitkan ke luar negeri seperti Australia, Inggris maupun Amerika.
Edisi bahasa Indonesia yang disebarkan dari terbitan JT kini memiliki tema yang kental dengan hadis. Format dalam yang ada dalam buku JT tampak sebagai berikut, terdapat umbul-umbul yang mencantumkan ayat Al quran dalam berbahasa Arab dan bahasa Urdu. Sampul buku menampilkan gambar makam Nabi dengan kubah berwarna hijau di Madinah, hal ini mengidentifikasi teks tersebut sebagai tanda kecintaannya terhadap Nabi. Begitulahlah model buku tersebut dikemas dengan sedemikian rupa yang memperlihatkan otoritas teks hadis sehingga seperti bukan buatan manusia tetapi fatwa-fatwa agama. Seluruh buku dari JT memuat ibadah secara praktik maupun amaliahnya, akan tetapi dalam buku ini sangat menghindari kritikan teradap adat dan kebiasaan yang buruk, tetapi lebih didominasi dengan hukum perbaikan.
Jika dilihat dari segi Islam, menganut terjemahan-terjemahan hadis ini menimbulkan pemahaman tertentu dalam JT, hal ini karena menurutnya jika terlalu banyak perbedaan hukum islam menimbulkan sebuah pertikaian karena perbedaan tersebut. Isi dari tindakan jihad ini juga merupakan sebuah tujuan mereka untuk suatu pengorganisasian. Mereka membentuk suatu sistem yang membuka perekrutan untuk menjadi anggota JT. Setelah menjadi anggota, mereka dituntun untuk mengarah kepada pemikiran theologis yakni pada karya-karyanya yang ber-esensi tidak jauh dari sufi.
Hal tersebut tampak pada isi buku yang cukup banyak memunculkan kisah-kisah Nabi dan pembesar islam pada zaman islam mulai baru-barunya disebarkan di dunia.
“manusia-manusia ini (para sahabat Nabi) menghadapi hambatan dan gangguan semacam itu dewasa ini kita menyebut-nyebut nama mereka dan mengatakan bahwa kita meneladani mereka, sekaligus berpikir bahwa kita menyaksikan mimpi-mimpi kemajuan (taraqiyan) seperti mimpi-mimpinya para sahabat yang mulia dalam urusan tentang kemajuan ruhiyah. Namun apabila untuk sesaat saja kita mau mengaruh sedikit perhatian, maka kita terpaksa beranggapan bahwa manusia-manusia agung tersebut melakukan pengorbanan berat semacam itu sedangkan kita, apakah yang telah kita perbuat demi agama, demi islam, demi manhaj? Kesuksesan selalu berbanding lurus dengan usaha keras dan perjuangan. Kita adalah manusia yang menginginkan kemewahan dan kenyamanan, dan kita menginginkan kerjasama dengan orang-orang kafir demi mengejar benda-benda di duniawi. Kemajuan islam bergantung pada kita, jadi bagaimana hal ini bisa terwujud? Seperti bunyi pepatah persia “aku takut, wahai pengelana, bahwa engkau tidak akan sampai ka’bah : jalan yang engkau susuri mengarah ke Turkestan)”
(Edisi Malik : hal 23-34, edisi Faizi, hlm. 36)
Pada paragraf diatas hanya potongan yang ada pada karya-karya JT. Pada umumnya, karya-karya ini memiliki maksud untuk memberikan pengertian kepada pembaca bahwa kehidupan yang sekarang adalah kehidupan yang penuh kehancuran baik peradaban, akhlak maupun budi pekerti manusia. Tentu berbeda dengan zaman Nabi dahulu, bahwa Nabi dan para sahabatnya berperi kehidupan yang shaleh. Mau bekerja keras, berkorban dan berjuang untuk kehidupan dan agamanya. seperti itulah maksud yang disampaikan isi teks pada umumnya. Mereka menggambarkan bahwa kehidupan yang sekarang terjadi banyak kesalahan dan harus diperbaiki.
Dalam segi perbaikan pun memiliki arti lain lagi. Menurut JT, dalam berdakwah mereka memiliki visi sebagai teladan Nabi yang merupakan paparan dari organisasi mereka. Organisasi mereka juga menghapuskan politik dan aktivitas sosial agar aktivitas mereka dapat terus berkembang dalam lingkungan abad ke XX yang tidak ada kampanye maupun kekuasaan politik. Aktivitas JT menciptakan pola kehidupan individual dan organisasional yang radikal. Menurut mereka, keberadaan ulama dan syekh sebenarnya tidak perlu. Hal ini karena menurut JT bahwa ulama dan syekh bukan sebagai sumber hukum islam yang secara mutlak. Akan tetapi, sumber hukum yang mutlak adalah Hadis dan Al quran. Mereka menganggap bahwa ajaran mereka adalah ajaran yang paling benar karena ajaran merekaa adalah teladan Nabi menurutnya.  Mereka memandang diri mereka adalah sesuatu selain partai, tetapi mereka berciri jama’at. Dalam kelompoknya pun dibekali dengan pemikiran yang sama.