This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 21 Februari 2019

RAGAM TRADISI TERHADAP PENGHARGAAN SEBUAH TEKS

Oleh : Muliana Puspita Sari

Sebutan antropolog bukanlah hal yang sederhana untuk dapat dipanggil sebagai antropolog. Antropolog mampu melewati hambatan dalam sebuah penelitian. Ada hambatan yang perlu dilalui seperti hambatan kultural terhadap komunis yang diteliti. Penelitian ini adalah bentuk agama yang dimaknai dengan beragam pandangan.  Bentuk pandangan yang dimaksud yakni, sosial kultural bahwa agama dibagi menjadi dua yakni,  tradisi besar dan tradisi kecil. Tradisi besar merupakan ortodoksi dari bentuk ekspresi agama sentral. Sedangkan tradisi kecil bersifat memasukkan elemen kedalam agama sehingga bercampur menjadi sebuah praktik lokal. Menurut yang  penulis pahami dari berbagai ilmuan antropoligi, pembagian agama yang berupa tradisi ini memberikan pengaruh terhadap pihak elite dan awam. Bahkan pembagian keduanya menimbulkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana makna islam yang sebenarnya.

Lambat laun tradisi ini menimbulkan pertanyaan yang jawabannya beragam sesuai komunitas muslim. Muncullah sebuah diskursif yang dipraktikkan dengan beragam ekspresi. Ragam ekspresi menjadi tugas antropolog yang dikenal dengan istilah islams dan bukan islam (menurut Lila Abou Lughod). Dengan pengekspresian ini islam menjadi beragam karena timbul kelompok yang berasal dari teks (tradisi besar) dan sebagai partisipan (tradisi kecil). Hadirlah sebuah cara pandang diskusif yang berperan sebagai penguasa menjadikan ortodoksi sebagai relasi / chanelling yang disebut dengan tradisi aural. Hal ini dihubungkan dengan prespektif living hadis yang dikaitkan bersama sejarah. Prespektif living hadis memberikan potret transformasi atas dinamika yakni menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai the real islam. 

Sebagai sebuah contoh, tradisi selametan ini bermula dari tradisi besar yakni tradisi Hindu dan Budha yang bertautan dengan tradisi Islam. Dalam islam pun terdapat pemaknaan hadis bahwa orang yang meninggal maka terputuslah amalnya kecuali do'a anak sholeh.  Maka melalui tradisi slametan inilah sebagai sebuah ekspresi atas respon kebudayaan yang menjadi siklus kehidupan. 

Antropologi baru merupakan bentuk dari hubungan antara sebuah fakta dengan sumber-sumber tradisi sehingga meletakkan sebuah praktik. Praktik ini adalah interpretasi yang memiliki makna tertentu dari proses-proses sosial. Proses sosial tidak bisa jauh dari teks yang mana teks tersebut merupakan unsur penting umat islam yakni, Al quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW.  Teks inilah yang menjadi landasan pokok umat islam untuk menjawab berbagai persoalan-persoalan manusia. Disinilah otoritas sebuah teks dapat diketahui yang bermula dari kompetisi dan sebuah reproduksi budaya masyarakat. 

Otoritas teks bukan hanya sesuatu yang ada dalam sebuah teks saja.  Akan tetapi, letak sebuah teks secara kultural yang terjadi dari praktik-praktik tertentu.  Praktik ini seperti motivasi untuk mendapat ridho Allah SWT atau rasa terpanggil untuk melakukan sebuah praktik religius. Bagi umat muslim pun tidak hanya Al quran dan hadis saja, tetapi kehadiran hukum dan norma yang berperan sebagai sanksi kehidupan baik pada segi sosial maupun individu. 

Problem-problem masyarakat ini yang ditangani oleh seorang antropolog ketika merumuskan aturan konsep dari perbedaan islam. Antropolog merelasikan antara tradisi besar dan tradisi kecil melalui universalisasi yakni tradisi yang dipelajari melalui lokalitas. Sehingga antropolog berusaha memperlihatkan bagaimana masing-masing umat muslim berpartisipasi dengan tradisi bersama meski teks diketahui sebagai aktifitas dari proses sosial masyarakat. Hal ini dipengaruhi bahwa otoritas teks yang sangat berperan dan bergantung dengan dimana teks tersebut diproduksi kemudian di praktikkan. Bermula dari teks yang menjadi konseptual secara objektif,  kemudian konseptual ini dipraktikkan pada realitas sosio-psikologis dan berakhir dengan model dari teks. 

Sumber : Saifuddin, Subkhani. 2018. Living Hadis (Praktik,  Resepsi, Teks,  dan Transmisi).  Yogyakarta : Q-media. 

Kamis, 14 Februari 2019

ABOUT LIVING HADIS

Muliana Puspita Sari
17105050043
ILHA A
LIVING HADIS

Hadis yang menjadi sumber ajaran kedua dari Al quran merupakan teladan dan praktik petunjuk Nabi Muhammad. Akan tetapi, banyak manusia yang meneladaninya dengan cara yang berbeda sehingga terkadang menjadi perdebatan yakni dari kaum literalis dan kontekstualis. Keragaman budaya terejawantahkan pada intuisi sehingga memunculkan sebuah praktik agama sebagai cara meneladani Rasulullah. Dengan demikian relasi antar agama, budaya dan modernitas yang tidak lepas dari nenek moyang menjadi sebuah terma dialektika yang muncul di berbagai fenomena. Living hadis adalah hasil dari dialektika yang diliah dari sosio-kultural masa kini tetapi tidak lepas dari hadis-hadis masa lalu.
Lingkup living hadis adalah sebagai berikut :
Perjumpaan teks normatif hadis dengan realitas ruang waktu dan lokal.
Living hadis untuk mengakomodir praktik di masyarakat yang berdasar pada teks hadis.
Living hadis tidak mempermasalahkan apakah sebuah praktik berasal dari hadis shahih, hasan dan dhaif, yang terpenting hadis dan bukan hadis maudhu’ hal ini dikarenakan sudah menjadi suatu bentuk keragaman praktik yang diakui masyarakat asal tidak menyalahi norma-norma.
           Living hadis adalah suatu bentuk kajian atas fenomena praktik, tradisi, ritual, atau perilaku yang hidup di masyarakat yang memiliki landasannya di hadis nabi. Berbagai interpretasi dari praktik ini misalnya aqiqah yang diwujudkan dengan bentuk yang berbeda tergantung kelompok masyarakat. Jika masyarakat abangan  maka biasanya mereka menyembelih ayam untuk menyesuaikan ekonomi mereka.
Teks hadir dan di pahami sesuai tempat dimana mayoritas masyarakat hidup. Mereka memaknai dengan presepsi yang berbeda, hal ini tidak lain karena budaya dan letak geografi yang memengaruhi dalam menyerap sebuah teks. Pada suatu penelitian di sebuah kamupung misal puasa senin-kamis,  apabila narasumber bertanya pada informan tentang bagaimana teks hadisnya mengenai puasa senin-kamis ini.  Akan Tetapi,  tidak semua informan mengetahui bagaimana dalilnya,  ada pula mereka yanh mengetahui sejarah atau pernah mendengar sehingga mereka mengatakan bahwa puasa senin-kamis hukumnya sunnah.  Dalam lingkum praktik keagamaan ini memang tanpa disadari pelaku praktik akan teks atau praktik Nabi. Disinilah peran agen dibutuhkan, yang mana agen menjadi perantara antara orang awam dan orang yang faham agama untuk memberikan informasi dalil secara detail.  Agen meresepsi produk yang sudah jadi dengan latar belakang kultural dan konteks saat itu. Namun,  sebagai sebuah hasil resepsi terkadang praktik terlalu condong dilakukan hingga terkadang terkesan teksnya hilang sehingga memang sebaiknya teksnya terlebih dahulu.
Living hadis adalah salah satu bentuk resepsi maka memerlukan teori metodologi dalam melihat prilaku masyarakat dengan pendekatan sebagai berikut :
1. Fenomenologi
Fenomenologi yaitu ilmu pengetahuan mengenai apa yang tampak untuk mengumpulkan data dari individu yang mengalami fenomena tersebut.
2. Naratif Studies
Berisi tentang rangkaian peristiwa atau kronologi yang saling berhubungan. Riset ini dapat dimulai dari cerita-cerita individu seperti biografi,  pengalaman,  rekam sejarah atau sejarah kehidupan seseorang.
3. Etnografi
Penelitian mengenai dua kelompok atau komunitas yang memiliki kebudayaan sama, yang di pelajari etnografer adalah perilaku bahasa, interaksi di kalangan para anggota komunitas kebudayaan tersebut.
4. Sosiologi Pengetahuan
Dalam teori Berger dan Luckmann mengandaikan suatu proses dialektika antara individu dengan realitas. Dari hal ini dapat dilihat bagaimana seorang individu membentuk dan dibentuk oleh Al quran dan Hadis sebagai fenomena sehari-hari.
5. Sejarah Sosial
Dengan sejarah maka suatu peristiwa dapat diliat kontekstualisasinya sehingga tampaklah apa yang terjadi sebenarnya. Seperti kajian histori mengenai kelas, kelompok sosial,  mentalis dan budaya.
Dapat disimpulkan dari buku living hadis Bab 1 karya Ibu Subkhani dan Bapak Saifuddin bahwa living hadis merupakan suatu bentuk kajian atas praktik, tradisi, ritual, atau perilaku yang hidup di masyarakat. Kajian living hadis sebaiknya ditemukan teks hadisnya terlebih dahulu agar dalam penelitian tidak jatuh pada bidang studi sosiologi agama dan antropologi agama. Kajian living hadis membutuhkan metodologi dan pendekatan sebagai perangkat dialektika individu dan masyarakat.
Sumber : Saifuddin. Subkhani. 2018. Living Hadis (praktik,  resepsi,  teks dan transmisi), Yogyakarta : Q-Media.