Muliana Puspita Sari
17105050043
ILHA A
LIVING HADIS
Hadis yang menjadi sumber ajaran kedua dari Al quran merupakan teladan dan praktik petunjuk Nabi Muhammad. Akan tetapi, banyak manusia yang meneladaninya dengan cara yang berbeda sehingga terkadang menjadi perdebatan yakni dari kaum literalis dan kontekstualis. Keragaman budaya terejawantahkan pada intuisi sehingga memunculkan sebuah praktik agama sebagai cara meneladani Rasulullah. Dengan demikian relasi antar agama, budaya dan modernitas yang tidak lepas dari nenek moyang menjadi sebuah terma dialektika yang muncul di berbagai fenomena. Living hadis adalah hasil dari dialektika yang diliah dari sosio-kultural masa kini tetapi tidak lepas dari hadis-hadis masa lalu.
Lingkup living hadis adalah sebagai berikut :
Perjumpaan teks normatif hadis dengan realitas ruang waktu dan lokal.
Living hadis untuk mengakomodir praktik di masyarakat yang berdasar pada teks hadis.
Living hadis tidak mempermasalahkan apakah sebuah praktik berasal dari hadis shahih, hasan dan dhaif, yang terpenting hadis dan bukan hadis maudhu’ hal ini dikarenakan sudah menjadi suatu bentuk keragaman praktik yang diakui masyarakat asal tidak menyalahi norma-norma.
Living hadis adalah suatu bentuk kajian atas fenomena praktik, tradisi, ritual, atau perilaku yang hidup di masyarakat yang memiliki landasannya di hadis nabi. Berbagai interpretasi dari praktik ini misalnya aqiqah yang diwujudkan dengan bentuk yang berbeda tergantung kelompok masyarakat. Jika masyarakat abangan maka biasanya mereka menyembelih ayam untuk menyesuaikan ekonomi mereka.
Teks hadir dan di pahami sesuai tempat dimana mayoritas masyarakat hidup. Mereka memaknai dengan presepsi yang berbeda, hal ini tidak lain karena budaya dan letak geografi yang memengaruhi dalam menyerap sebuah teks. Pada suatu penelitian di sebuah kamupung misal puasa senin-kamis, apabila narasumber bertanya pada informan tentang bagaimana teks hadisnya mengenai puasa senin-kamis ini. Akan Tetapi, tidak semua informan mengetahui bagaimana dalilnya, ada pula mereka yanh mengetahui sejarah atau pernah mendengar sehingga mereka mengatakan bahwa puasa senin-kamis hukumnya sunnah. Dalam lingkum praktik keagamaan ini memang tanpa disadari pelaku praktik akan teks atau praktik Nabi. Disinilah peran agen dibutuhkan, yang mana agen menjadi perantara antara orang awam dan orang yang faham agama untuk memberikan informasi dalil secara detail. Agen meresepsi produk yang sudah jadi dengan latar belakang kultural dan konteks saat itu. Namun, sebagai sebuah hasil resepsi terkadang praktik terlalu condong dilakukan hingga terkadang terkesan teksnya hilang sehingga memang sebaiknya teksnya terlebih dahulu.
Living hadis adalah salah satu bentuk resepsi maka memerlukan teori metodologi dalam melihat prilaku masyarakat dengan pendekatan sebagai berikut :
1. Fenomenologi
Fenomenologi yaitu ilmu pengetahuan mengenai apa yang tampak untuk mengumpulkan data dari individu yang mengalami fenomena tersebut.
2. Naratif Studies
Berisi tentang rangkaian peristiwa atau kronologi yang saling berhubungan. Riset ini dapat dimulai dari cerita-cerita individu seperti biografi, pengalaman, rekam sejarah atau sejarah kehidupan seseorang.
3. Etnografi
Penelitian mengenai dua kelompok atau komunitas yang memiliki kebudayaan sama, yang di pelajari etnografer adalah perilaku bahasa, interaksi di kalangan para anggota komunitas kebudayaan tersebut.
4. Sosiologi Pengetahuan
Dalam teori Berger dan Luckmann mengandaikan suatu proses dialektika antara individu dengan realitas. Dari hal ini dapat dilihat bagaimana seorang individu membentuk dan dibentuk oleh Al quran dan Hadis sebagai fenomena sehari-hari.
5. Sejarah Sosial
Dengan sejarah maka suatu peristiwa dapat diliat kontekstualisasinya sehingga tampaklah apa yang terjadi sebenarnya. Seperti kajian histori mengenai kelas, kelompok sosial, mentalis dan budaya.
Dapat disimpulkan dari buku living hadis Bab 1 karya Ibu Subkhani dan Bapak Saifuddin bahwa living hadis merupakan suatu bentuk kajian atas praktik, tradisi, ritual, atau perilaku yang hidup di masyarakat. Kajian living hadis sebaiknya ditemukan teks hadisnya terlebih dahulu agar dalam penelitian tidak jatuh pada bidang studi sosiologi agama dan antropologi agama. Kajian living hadis membutuhkan metodologi dan pendekatan sebagai perangkat dialektika individu dan masyarakat.
Sumber : Saifuddin. Subkhani. 2018. Living Hadis (praktik, resepsi, teks dan transmisi), Yogyakarta : Q-Media.






0 komentar:
Posting Komentar