This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 24 Mei 2019

PEMAHAMAN HADIS DI KELUARGA RAKHMAD


Muliana Puspita Sari
17105050043

Sebagai penulis hasil penelitian hadis beliau bernama bapak Udin mencoba melihat secara detail kehidupan bapak Rakhmad yang memiliki spirit hadis cukup mendalam. Kehidupan bapak Rakhmad yang memuiliki religius tinggi terhadap pengamalan hadis-hadis Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan bapak Rakhmad dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah :
  1. Memiliki jenggot di bawah dagu.
  2. Celana cingkrang di atas mata kaki.
  3. Sebelum masuk ke kamar mandi berdo’a terbih dahulu.
  4. Ketika masuk ke kamar mandi, kaki kiri dahulu yang dipijakkan.
  5. Penampilan istri beliau memakai jilbab besar, berkaus kaki dengan memakai sandal.
  6. Ketika ada tahi tikus di timba, sang istri membilas kembali cucian baju-bajunya meski sudah dicentelkan di jemurin.
  7. Selalu menyapa pak Udin ketika tidak ikut jamaah.
  8. Adzan lima waktu.
  9. Sering bersilaturahmi.
  10. Merapatkan shaf.
  11. Menyapa dengan suara agak keras dan didengar banyak orang Pak Udin yang minum sambil berdiri.

Dari beberapa uraian tersebut tampak bahwa keluarga pak Rakhmad hidup dalam teks-teks. Keluarga pak Rakhmad selalu berusaha menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang tercantum dalam teks-teks hadis sehingga kehidupan mereka menjadi terbentuk hal yang sama dengan apa yang tercantum dalam teks. Informasi dari apa yang dijalani pak Rakhmad dalam kehidupan sehari-hari beberapa berasal dari pengajian rutin yang dilaksanakan setiap hari minggu pagi bersama dengan kolompok-kelompoknya. Pengajian tersebut pun dilaksanakan secara bergilir. Dari sinilah, tampak bahwa peran Nabi Muhammad sangat berpengaruh bagi keluarga pak Rakhmad.
Berdasarkan hasil penelitian, bahwa kehidupan pak Rakhmad hanya menganut satu teks saja yang mereka pegangi. Sedangkan teks-teks hadis tidak hanya satu sumber saja. Bahkan dari banyak periwayat maupun banyak sumber yang menyampaikan informasi secara berbeda-beda. Akan tetapi, teks memiliki rentang waktu yang cukup lama. Sehingga tidak bisa dipahami hanya dengan satu cara saja, teks harus dipahami secara luas bahkan teks juga dipahami dengan tidak meninggalkan asbabul wurud hadis. 
Apabila seseorang hanya berpegang teguh pada satu pemahaman saja maka menjadi ketimpangan pemahaman teks. Seseorang yang tidak mau menoleh, menilik, meneliti, dan menerima secara normatif-komprehensif tentu dapat menimbulkan kehidupan yang kaku dalam menjalani kegiatan sehari-hari karena kehidupannya yang tekstualis. Sedangkan syari’at, tidak dipahami hanya dengan satu sumber melainkan menoleh kepada kondisi zaman Nabi atau sebab akibat Nabi memberikan keputusan ataupun informasi berupa sabda Nabi.
Melihat kehidupan keluarga pak Rakhmad pada sisi living hadis menghasilkan pengamatan yang cukup identis, yakni kehidupan yang dijalankan dalam pola-pola teks. Sadar tidak sadar bahwa struktur kehidupan selalu termaktub dalam sabda Nabi. Sebenarnya, memang kebanyakan masyarakat hidup dalam kehidupan yang menjalani alur saja tanpa melihat sumber aslinya atau jika ditanya “teks hadisnya apa?” kebanyakan yang menjawab tidak tau. Namun, bisa saja yang menjawab tau tetapi dalam menjalankannya tanpa ada penafsiran sama sekali.
Berdasarkan hasil penelitian keluarga pak Rakhmad dapat disimpulkan bahwa, keluarga pak Rakhmad hidup dalam teks-teks hadis dan mangutamakan praktik yang sedekat mungkin kesamaannya dengan hadis. Adapun dari kebanyakan orang memandang hadis sebagai kecenderungan bahwa hadis Rasulullah dipandang sebagai kebiasaan, kewajiban dan merupakan hukum.

Sumber : Saifuddi, Ali Imran. 2013. Model-Model Penelitian Kontemporer. Yogyakarta : Ilha Press.

Rabu, 01 Mei 2019

KORELASI SEJARAH SOSIAL DENGAN LIVING HADIS


Muliana Puspita Sari
17105050043

Sejarah sosial sebagai pendekatan yang baru bagi living hadis. Obyek kajian ini menelaah lebih jauh peran masyarakat dalam kehidupannya  saat menginterpretasikan sunnah Nabi. Keberadaan sejarah sosial tidak bisa dipungkiri bahwa ternyata sejarah sosial memiliki kontribusi yang utuh bagi studi living hadis. Hal ini dikarenakan sejarah sosial melibatkan beragam kultur sosial politik kehidupan masyarakat lokal yang berbau khas dan masih membekas seperti peninggalan sufi atau imam madzhab.
Sejarah sosial harus dilihat secara seimbang antara peran agama dan kultur masyarakat setempat. Dengan demikian, sejarah sosial tidak cukup dengan melihat islam pada aspek politik saja. Mengungkap sejarah sosial pinggiran sebagai objek kajian islam dengan memandang islam yang diasumsikan oleh masyarakat melalui pusat historiografi kekhalifahan dan kekuasaan politik. Cara pandang seperti ini akan memberikan keseimbangan antara agama dan masyarakat sebagaimana otoritas keagamaan terjadi di masyarakat.
Dapat disimpulkan bahwa sejarah sosial lebih menempatkan masyarakat sebagai objek pijakan untuk menkaji living hadis. Penekanan historiografi ditempatkan dari bawah, yakni rakyat yang kemudian baru naik pada kelas kaum elit. Sehingga historiografi tidak secara langsung merujuk pada masyarakat penguasa atau tokoh yang memiliki keahlian dan jasa pada bidang tertentu. Dengan demikian, dinamika masyarakat inilah yang menjadi penentu bagi proses sebuah sejarah.
Pentingnya sejarah sosial bagi living hadis merupakan aspek dasar yang menjadi kerangka materil bagi sebuah kajian. Interaksi antara islam dan lokalitas saling berpengaruh dengan tidak meninggalkan gambaran sejarah sosial. Living hadis sendiri hidup ditengan kehidupan masyarakat yang menjalani agama dengan tunduk terhadap sistem kekhalifahan.
Sistem kekhalifahan sebenarnya terikat oleh kultur masyarakat yang disegani sebagai seseorang yang memposisikan kursi kehormatan agamisnya. Sedangkan kekhalifahan tersebut memiliki sejarah sosial sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang orang awam. Tampak bahwa hal tersebut merupakan living hadis yang dipengaruhi oleh lokalitas dari sejarah sosial yang terjadi.
Narasi sejarah tersebut bermula dari keberadaan para tokoh pemuka agama seperti kiyai, ulama bahkan majelis agama tertentu. Mereka-mereka inilah yang memiliki otoritas dalam transmisi dan transformasi hadis kepada masyarakat setempat. Masyarakat menerima fatwa-fatwa atau keterangan-keterangan mengenai persoalan agama yang diasumsikan sebagai petunjuk bagi masyarakat.
Keberadaan para tokoh yang menjadi otoritas maka proses masyarakat tentang bagaimana masyarakat mengenyam informasi dari para tokoh agama untuk mempraktikkannya. Salah satu keterkaitan dari praktik masyarakat ini tentu melibatkan sunah Nabi yang mereka pahami melalui akulturasi budaya lokal. Sebagaimana cara masyarakat mempraktikkan tentang apa yang mereka pahami, disinilah posisi sejarah sosial dan living hadis berperan tanpa memberikan justifikasi benar dan salah. Justru living hadis berusaha memandang bagaimana masyarakan mempraktikkan dirinya sebagai bagian dari islam. Sedangkan sejarah sosial pun berusaha untuk melengkapi mereka sebagai masyarakat yang berkehidupan dinamis untuk melewati batas-batas sosio-kultural mereka.
Demikianlah keseimbangan sejarah sosial terjadi, tidak hanya melihat dari satu aspek saja namun diperlukan berbagai sisi untuk mengkajinya. Sehingga, ketika sunah Nabi yang hidup ditengah masyarakat dikaji, maka sejarah sosial berusaha untuk melengkapi dengan sejarah total. Dengan kata lain, kajian living hadis tidak dapat dikatakan sebagai kajian living apabila tidak disertai dengan penerimaan masyarakat sebagai titik dasar eksplorasi diberbagai dimensi seperti sosial, politik, budaya, ekonomi dan agama melalui sejarah sosial. Hal tersebut sangat ditekankan oleh Bulliet sebagai “the view from the edge”.